Problematika Kesehatan Masyarakat yang Tak Kunjung Reda: World Tobacco Asia Kembali Hadir di Indonesia

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia

Problematika Kesehatan Masyarakat yang Tak Kunjung Reda: World Tobacco Asia Kembali Hadir di Indonesia

 

World Tobacco Asia (WTA) merupakan eksibisi rokok dan prasarana otomatisasi industri yang diikuti oleh para pelaku industri rokok dari seluruh dunia. Dalam pameran tersebut, para pelaku industri rokok memamerkan produk mereka masing-masing dari berbagai belahan dunia dan mengundang investor untuk menanamkan investasinya. Indonesia kembali menjadi target industri rokok dalam memasarkan produknya. Setelah adanya World Tobacco Asia (WTA) yang berhasil diselenggarakan dan menuai berbagai protes, sehingga pelaksana acara tersebut memberikan janji untuk tidak akan kembali ke Indonesia. Namun, realita menunjukkan bahwa pameran rokok tersebut kembali di gelar pada tahun 2014 di Bali dan gagal terlaksana pada tahun 2015 di Jakarta. Tahun 2016, pameran rokok internasional ini berubah nama menjadi World Tobacco Process and Machinery (WTPM) Asia Exhibition dan berhasil diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 27-28 April 2016. Kemudian tahun ini, kembali hadir dan akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 Oktober 2019 di Surabaya. Hal tersebut tidak sesuai dengan janji yang sudah disampaikan pada tahun 2012 silam.

Pameran ini bukan hal baru di Indonesia. Dalam situs resmi World Tobacco Asia (WTA) bertuliskan bahwa “As South-East Asia and Asia Pacific regions continue to see growth in Tobacco markets, WT Asia is heading back to Indonesia in 2019. After China, Indonesia is the second largest cigarette market in Asia and also benefits from high domestic consumption figures. As the large majority of raw materials are domestically-sourced, the Indonesian market is more stable than those subject to foreign exchange rate volatilities”. Hal ini berarti dalam penyelenggaraan WTA tahun 2019 Indonesia menjadi tuan rumah karena memiliki potensi sebagai pasar yang besar bagi industri rokok.


Industrialisasi rokok dan pengukuhan Indonesia sebagai pasar besar Industri rokok seluruh dunia jelas memperlihatkan bahwa tujuan utama dari WTA yaitu untuk mencetak atau menambah jumlah perokok baru. dalam WTA, akan dipamerkan peralatan-peralatan canggih yang mampu memproduksi juta batang rokok dalam satu detik, dan nantinya akan menggantikan ribuan buruh-buruh linting yang tidak efisien. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, di Indonesia remaja sekolah atau umur 10-18 tahun menunjukan peningkatan presentase perilaku merokok, dari yang sebelumnya sebesar 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018. Sehingga, pameran ini dikhawatirkan akan semakin menambah pengaruh buruk pada Indonesia, seperti peningkatan angka kesakitan bahkan kematian yang disebabkan oleh rokok, angka perokok pemula semakin meningkat dan dampak dibidang ekonomi akan berkurangnya lapangan kerja bagi buruh tembakau.


Selain itu, pameran ini dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi perokok aktif, perokok pasif dan lingkungan. Para perokok pasif tidak dapat merasakan udara yang segar dan lingkungan yang bersih. 7000 ribu lebih zat beracun yang terdapat pada rokok akan menyebabkan faktor dari resiko-resiko penyakit mematikan. Fakta lain juga mengatakan, tidak ada negara yang bersedia menjadi tuan rumah World Tobacco Asia dan ketika Indonesia menerima kembali menjadi tuan rumah, berarti Indonesia telah kalah jauh dari negara-negara di seluruh dunia, yang umumnya telah melindungi masyarakat mereka dengan memberlakukan regulasi ketat tentang penanggulangan produk tembakau. Selain itu, dengan Terselenggaranya pameran ini memperlihatkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat terbuka terhadap rokokdan akan menyebabkan penanaman modal asing semakin banyak dan kian melenakan untuk tidak dibendung yang akhirnya akan mempersulit Indonesia untuk mengesahkan regulasi penanggulangan tembakau yang tak kunjung terlaksana, yaitu meratifikasi Framework Conventaion on Tobacco Control (FTCT). FCTC adalah perjanjian internasional tentang kesehatan masyarakat yang dibahas dan disepakati oleh negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia yaitu World Health Organization (WHO) bertujuan untuk melindungi generasi masa kini dan mendatang dari dampak konsumsi rokok dan paparan asap rokok.


Pemerintah harus segera membuat ketegasan aturan untuk pengendalian rokok atau tembakau dan mencabut surat perizinan penyelenggaran pameran ini, terkhusus pemerintah Surabaya. Kualitas dan masa depan suatu bangsa ditentukan oleh tiga hal penting, yaitu pendidikan, kesehatan, dan demokrasi. Bangsa yang terdidik, sehat, dan demokratis memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan keberadaannya dalam jangka waktu sangat lama. Sebaliknya, bangsa yang bodoh, lemah dan sakit hanya dapat menghitung waktu dalam menunggu kehancurannya. Oleh karenanya, Undang-undang Dasar Republik Indonesia (UUD) 1945 menjamin, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik. Maka dari itu, pihak pemerintah harus ikut turut serta mengubah masyarkat agar lebih mementingkan kesehatan dan membuat aturan yang tegas tentang pengendalian rokok dan diharapkan ada perubahan di tahun berikutnya agar menghentikan keberlanjutan acara pameran-pameran rokok yang diselenggarakan di Indonesia.


Kesehatan negara ini pada dasarnya menjadi tanggung jawab bersama tidak hanya pemerintah tapi masyarakat pun harus ikut serta melancarkannya. Jika kesehatan negara kita baik maka dipastikan bahwa negara kita akan lebih maju, jika negara kita tidak dapat mengubah pola hidup sehat dipastikan kita akan semakin terpuruk dan merasa tidak nyaman tinggal di Indonesia. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat merupakan agent of change yang fokusnya adalah promotiv dan preventif yaitu merubah pola hidup masyarakat menjadi hidup lebih sehat. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat bertugas untuk menyadarkan dan mengubah pola pikir masyarakat akibat-akibat yang ditimbulkan dengan cara pencegahan dan mempromosikan menggunakan metode yang kreatif seperti edukasi rokok dengan metode permainan, menggunakan komik, dan lain-lain dengan tujuan untuk mencegah perokok aktif bertambah. Karena, sebagai mahasiswa kita dituntut untuk jangan hanya diam dan menjadi penonton perubahan.
Setiap tahunnya, pada tanggal 31 Mei, WHO dan mitra global merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Kampanye tahunan ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran tentang efek berbahaya dari penggunaan tembakau dan paparan asap rokok bekas, dan untuk mencegah penggunaan tembakau dalam bentuk apa pun. Fokus dari Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2019 adalah “tobacco and lung health”. Kampanye ini akan meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif tembakau terhadap kesehatan paru-paru orang, dari kanker hingga penyakit pernapasan kronis. Kampanye ini juga berfungsi sebagai ajakan untuk bertindak, mengadvokasi kebijakan yang efektif untuk mengurangi konsumsi tembakau dan melibatkan para pemangku kepentingan di berbagai sektor dalam perjuangan untuk pengendalian tembakau. Momentum ini juga dapat dimanfaatkan, untuk membuat gerakan atau kampanye terkait penolakan terhadap WTA, agar nantinya pameran tersebut dibatalkan.


Kesimpulannya, jika generasi muda Indonesia sehat, kedepannya produktivitas akan tinggi. Jika para generasi muda sudah terpengaruh dengan rokok maka produktivitas akan rendah disebabkan sakit akibat asap rokok. Tidak hanya pada perokok aktif yang dapat sakit namun pada perokok pasif pun terkena dampaknya. Maka dari itu, seluruh elemen harus bergerak bersama-sama untuk bangsa Indonesia yang lebih sehat.

Oleh Nadhirul Mundhiro, Dewan Redaksi BIMKMI 2019

#ISMKMI

#ISMKMISUPERIOR

#BIMKMIMENGANGKASA

#SatukanLangkahCapaiPerubahan

____________________________________________

BERKALA ILMIAH MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

IKATAN SENAT MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *