Direct Breastfeeding Investasi Masa Depan Negeri

Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia

Direct Breastfeeding Investasi Masa Depan Negeri

Direct Breastfeeding

Direct Breastfeeding Investasi Masa Depan Negeri

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2017, diketahui bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebanyak 24 bayi per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data tersebut Indonesia dikategorikan kedalam 10 negara dengan jumlah kematian ibu dan neonatal atau bayi baru lahir tertinggi di dunia (bps.go.id). Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus, karena AKB merupakan salah satu indikator penting dalam melihat image sebuah negara terhadap derajat kesehatannya dan tingkat kemajuan sebuah negara.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan angka kematian bayi ini adalah dengan memberikan makanan terbaik yang dibutuhkan bayi yakni Air Susu Ibu (ASI). Berdasarkan data Riskesdas (2018) proporsi pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan hanya 37,3% ASI eksklusif, maka dari itu angka proporsi ini perlu untuk ditingkatkan. Salah satu investasi terbaik untuk keberlangsungan hidup dan meningkatkan derajat kesehatan, perkembangan sosial, serta tingkat ekonomi individu adalah dengan cara menyusui. Memberikan ASI eksklusif atau memberikan ASI secara langsung (direct breastfeeding) kepada bayi adalah langkah awal dan berdampak besar dikemudian hari terhadap tumbuh kembang bayi.

Dikutip dari artikel Kementerian Kesehatan, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mengurangi hingga 13 persen angka kematian balita. Tidak hanya berdampak bagi indivdu, ASI eksklusif ini juga berdampak terhadap status ekonomi sebuah negara. Berdasarkan studi The Global Breastfeeding Collective (2017) menunjukan bahwa sebuah negara akan mengalami kerugian secara ekonomi sekitar $300 milyar setiap tahunnya karena cakupan ASI Eksklusi yang rendah dan kemudian juga akan berdampak terhadap risiko kematian ibu dan balita yang meningkat serta pembiayaan kesehatan juga akan semakin besar karena tingginya kasus diare dan kasus infeksi lainnya (kemenkes.go.id). Maka dari itu perlu kita tingkatkan kesadaran bersama bahwa asupan ASI dari ibu terhadap bayi adalah hal yang penting untuk digalakan bersama.

Namun yang menjadi permasalahannya hingga saat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran ibu untuk menyusui secara eksklusif atau memberikan ASI secara langsung kepada bayi tidaklah mudah layaknya membolak-balikan telapak tangan. Banyak faktor yang mempengaruhi atau menghambat seorang ibu untuk memberikan ASI kepada bayi secara langsung (direct breastfeeding), terlebih dengan sistem tatanan perekonomian masyarakat Indonesia yang beragam. Tentu hal ini mempengaruhi sebagian besar ibu untuk memberikan ASI secara langsung (direct breastfeeding). Jika dilihat dari sudut masyarakat yang kehidupan ekonominya tercukupi bisa diambil contoh wanita karir, seorang ibu yang terjun dalam dunia karir tidak banyak waktu baginya untuk melakukan direct breasfeeding ini. Lantas bagaimana dengan keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke bawah? Ini bisa menjadi salah satu alasan bahkan tuntutan bagi seorang ibu untuk tetap bekerja mencari penghasilan tambahan untuk kebutuhan keluarganya dengan mengesampingkan pentingnya memberikan ASI kepada bayi secara langsung. Ada beberapa alasan lain yang membuat ibu tidak melakukan direct breastfeeding ini, diantaranya:

  • Kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi ibu dan bayi serta faktor budaya setempat yang masih dijalankan. Selain kurangnya pengetahuan, faktor budaya turun temurun terkait pemberian makanan tambahan lain yang didapat dari pengalaman orang tua atau orang terdahulu menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam pemberian ASI ini.
  • Membutuhkan waktu yang lama. Ibu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberikan ASI secara langsung kepada bayi hingga bayi tidak merasa lapar lagi dan hal ini tidak cukup dilakukan dalam satu atau dua kali dalam satu hari, bayi harus mendapatkan ASI saat ia merasakan lapar kapan saja. Dengan demikian ibu harus stand by untuk bayi.
  • Direct breastfeeding agak sulit dilakukan dalam keadaan atau situasi yang ramai.
  • Ibu harus mengontrol asupan dan kualitas makanan, karena bayi membutuhkan kualitas ASI yang baik dan volume ASI harus mencukupi kebutuhan bayi.
  • Kurangnya dukungan dan motivasi keluarga untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi.
  • Dan masih banyak alasan lain yang menjadi pertimbangan dan menghambat pemberian ASI kepada bayi.

Faktor-faktor penghambat ini agak sulit kita eliminasi dari kehidupan bermasyarakat di negara kita, bisa dikatakan “bagaikan pungguk merindukan bulan” layaknya mengharapkan sesuatu yang sulit atau hampir tidak dapat diraih jika dilihat dari kondisi yang ada. Namun yang perlu kita ingat bahwa tidak sedikit juga faktor pendorong yang dapat kita upayakan untuk meningkatkan kesadaran ibu untuk memberikan ASI atau direct breastfeeding ini. Hal-hal yang bisa diupayakan adalah :

  • Peran tenaga kesehatan dan para ahli lainnya dalam menyosialisasikan dan memberikan wawasan akan pentingnya memberikan ASI kepada bayi. Menyusui adalah masa paling penting antara ibu dan bayi, selain berdampak pada tumbuh kembang bayi, memberikan ASI secara langsung (direct breastfeeding) juga dapat meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayi. Pengetahuan akan pentingnya memberikan ASI adalah modal dasar tercapainya tujuan untuk meningkatkan angka proporsi pemberian ASI eksklusif di Indonesia.
  • Dukungan keluarga. Selain pengetahuan, dukungan moril dari keluarga sangatlah penting. Dorongan positif dan motivasi keluarga juga merupakan peran penting terhadap berhasil atau tidaknya pemberian ASI eksklusif.
  • Peran pihak lain yang dalam hal ini bisa ditujukan pada pemerintah dan perusahaan atau institusi tempat ibu menyusui bekerja. Mengapa demikian? Karena beberapa alasan ibu tidak memberikan ASI kepada bayi adalah sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja sehingga tidak menyempatkan diri memberikan ASI kepada bayi. Peran seperti apa yang diperlukan? Perlu ditegaskannya kembali Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 83 yang menyatakan bahwa pekerja perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan dalam waktu kerja dan PP No. 33 Tahun 2012 pasal 30 mengatur tentang penyediaan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI. Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib menyediakan fasilitas khusus ini sesuai dengan kemampuan perusahaan/institusi.

Semua dukungan dan peran disetiap lini lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk turut membantu meningkatkan angka proporsi ibu menyusui secara eksklusif yang faktanya masih belum mencapai 50%. Dan perlu ditekankan lagi bahwa Indonesia termasuk kedalam 10 negara dengan AKB tertinggi di dunia, yang mana AKB ini adalah image negara terhadap derajat kesehatannya. Maka dari itu dengan meningkatkan kesadaran ibu untuk memberikan ASI kepada bayi adalah salah satu taktik untuk menekan AKB ini. Menyusui tidak hanya berdampak baik bagi ibu dan bayinya tetapi juga dapat memperbaiki image negara menjadi lebih baik. Dan dengan memberikan ASI tanpa disadari juga dapat dijadikan bibit dan investasi untuk menciptakan generasi yang dapat diandalkan untuk masa depan negeri.

Daftar Referensi

Badan Pusat Statistik. (2017). Angka Kematian Bayi (AKB) Per 1000 Kelahiran Hidup Menurut Provinsi, 2012 dan 2017. Diambil Kembali dari : https://www.bps.go.id/dynamictable/2019/10/06/1688/angka-kematian-bayi-akb-per-1000-kelahiran-hidup-menurut-provinsi-2012-dan-2017.html

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2018). Menyusui sebagai Dasar Kehidupan. Diambil dari: https://www.kemkes.go.id/article/view/19011500003/menyusui-sebagai-dasar-kehidupan.html

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Berikan ASI untuk Tumbuh Kembang Optimal. Diambil dari: https://www.kemkes.go.id/article/view/19080800004/berikan-asi-untuk-tumbuh-kembang-optimal.html

Novidiyanti, Sarwinanti. Faktor-Faktor Penghambat Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu di Puskesmas Danurejan I Kota Yogyakarta Tahun 2017. 2017 Jul 18.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. (2003). Diambil kembali dari: https://kemenperin.go.id/kompetensi/UU_13_2003.pdf

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. (2012). Diambil kembali dari: http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PP%20No.%2033%20ttg%20Pemberian%20ASI%20Eksklusif.pdf

Dewi Andriani. (2018). Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Tinggi, Ini Penyebab Utamanya. Diambil kembali dari: https://lifestyle.bisnis.com/read/20181225/106/872683/kematian-ibu-dan-bayi-di-indonesia-tinggi-ini-penyebab-utamanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *